Konsep
dan Pengertian Manajemen Kelas - Dengan adanya otonomi daerah sekarang ini
muncul sebuah keputusan baru sektor pendidikan
dalam upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah yaitu Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS). Dari sini setiap kepala sekolah dituntut untuk melakukan
fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan
melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada
guru. Disamping itu juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, serta
studi banding antar sekolah untuk menyerap dan menfilter kiat-kiat kepemimpinan
kepala sekolah yang lain.
Dalam
rangka mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien, guru harus berkreasi
dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung
para peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala
kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru harus
mengorganisasikan kelasnya dengan baik, jadwal pelajaran, pembagian tugas,
peserta didik, kebersihan, keindahan serta ketertiban kelas. Pengaturan tempat
duduk peserta didik, penempatan alat-alat harus dilakukan dengan
sebaik-baiknya. Manajemen kelas yang baik memungkinkan guru mengajar dengan
baik, karena kelas yang terhindar dari konflik menjadikan guru mengembangkan
kemampuannya sehingga terjadi hubungan yang efisien dengan siswanya. Suasana
kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong
semangat belajar peserta didik. Kreatifitas dan daya cipta guru untuk
mengimplementasikan MBS perlu terus menerus didorong dan dikembangkan.
Sebelum
kita membicarakan tentang definisi manajemen kelas, terlebih dahulu kita perlu
mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan manajemen dan kelas.
Menurut
Made Pidarta dalam bukunya Manajemen Pendidikan Indonesia sebagaimana yang
telah dikutip oleh Mujamil Qomar, mengatakan bahwa manajemen adalah suatu
proses dalam mengintegrasikan sumber-sumber (mencakup orang-orang, alat-alat,
media bahan-bahan uang dan sarana semuanya) diarahkan dan dikoordinasi agar
terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan.
Adapun
menurut Nawawi, bahwa:
“Kelas
adalah sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat
sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara
dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan pembelajaran yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan”.
Dengan
demikian, yang dimaksud dengan kelas bukan hanya kelas yang merupakan ruangan
yang dibatasi dinding tempat para siswa berkumpul bersama untuk mempelajari
segala yang disajikan oleh pengajar, tetapi lebih dari itu kelas merupakan
satuan unit kecil siswa yang berinteraksi dengan guru dalam proses pembelajaran
dengan beragam keunikan yang dimiliki, contoh: aspek fisik, psikis, latar
keluarga, bakat dan minat. Seluruh aspek tersebut perlu ditanggapi secara
positif sebagai faktor pemacu dalam mewujudkan situasi dinamis yang dapat
berlangsung dalam kelas, sehingga segenap siswa diharapkan dapat tumbuh dan
berkembang secara efektif dan terarah sesuai dengan tugas-tugas perkembangan
mereka. Dan situasi seperti inilah yang akan mendorong terciptanya kerjasama
sekaligus persaingan yang sportif dalam meraih prestasi belajar. Hubungan
manusiawi yang efektif ini dapat menjadi motivator belajar siswa, dan merupakan
faktor pendukung bagi penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan
proses belajar mengajar. Selain itu Nawawi juga menegaskan bahwa definisi kelas
dibagi dua yaitu:
1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
1. Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan
pendapat tentang manajemen dan kelas dari para ahli diatas, maka pengertian manajemen kelas adalah antara
lain:
Menurut Pidarta seperti yang telah dikutip
oleh Saiful Bakhri, mengatakan bahwa “Manajemen kelas adalah proses seleksi dan
penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem kelas. Ini berarti guru
bertugas menciptakan, memperbaiki dan memelihara sistem/ organisasi kelas,
sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya
pada beberapa tugas individualnya”.
Menurut
Sudirman, bahwa “Manajemen kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi
kelas, karena itu kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang
keberhasilan proses interaksi edukatif, maka agar memberikan dorongan dan
rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola
sebaik-baiknya oleh guru”.
Dari
kedua pendapat tersebut dapat ditarik garis tengah, bahwa manajemen kelas suatu
upaya memberdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung
proses interaksi edukatif dalam mencapai
tujuan pembelajaran.
Sedangkan
Menurut Johanna Kasin Lemlech, (Cece Wijaya:1994) manajemen kelas adalah suatu
usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menata kehidupan yang ada di kelas
mulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya,
pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi dan memantau kemajuan
siswa serta mengantisipasi beberapa masalah yang kemungkinan timbul di kelas
tersebut.
Menurut
Oemar Hamalik, seperti yang telah dikutip oleh Made Pidarta definisi manajemen
kelas ada dua paham, yaitu paham lama dan paham baru. Paham lama mengatakan
manajemen kelas hanya merupakan sebuah pertahanan kelas dengan tujuan
mewujudkan ketertiban kelas. Dan paham baru mengatakan bahwa manajemen kelas
merupakan suatu proses seleksi dalam menggunakan alat-alat yang tepat terhadap
beberapa problema dalam perwujudan situasi kelas yang efisien.
Kelas
sebagai lingkungan belajar siswa yang merupakan aspek dari lingkungan yang
harus diorganisasikan dan dikelola secara sistematis. Lingkungan ini harus
diawasi, agar kegiatan belajar mengajar bisa terarah dan menuju pada sasaran
yang dikehendaki. Pengawasan terhadap lingkungan belajar mengajar itu juga
dimaksudkan untuk mendorongnya menjadi lingkungan yang baik. Karakteristik
lingkungan yang baik itu, diantaranya kelas memiliki sifat merangsang dan
menantang siswa untuk selalu belajar memberi rasa aman dan kepuasan dalam
tujuan belajar.
Dengan
demikian, berarti bahwa kelas itu mempunyai peran dan fungsi tertentu yang
nyata-nyata dapat menopang keberhasilan proses belajar mengajar. Sehingga agar
dapat memberikan rangsangan terhadap siswa dalam situasi dan kondisi belajar,
maka kelas perlu dikelola sebaik mungkin. Hubungan baik antara guru dan siswa,
siswa yang satu dengan yang lainnya dipandang sebagai indikasi keberhasilan
manajemen kelas. Dari sini tepat dikatakan bahwa manajemen kelas secara dinamis
merupakan penentu perwujudan proses pembelajaran yang efektif. Dan untuk menciptakan
suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar
siswa, serta lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap
siswa dalam belajar, maka diperlukan manajemen kelas yang baik dan memadai.
Manajemen kelas yang asal-asalan jelas nyata bisa menampakkan proses
pembelajaran yang rusak.
Referensi:
- Djamarah,
Saiful Bakhri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta:
Rineka Cipta.
- Mulyasa.
2004. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi. Bandung:
Remaja Rosydakarya.
- Qomar,
Mujamil. 2002. Meniti Jalan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
- Sudirman.
1991. Ilmu Pendidikan:Kurikulum, Program pengajaran, Efek Intruksional dan
pengiring, CBSA, Metode mengajar, Media pendidikan, Pengelolaan kelas dan
Evaluasi hasil belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
- Semiawan,
Cony, 1992. Pendekatan Ketrampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa Dalam
Belajar. Jakarta: Grasindo.
- Wijaya,
Cece. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya. cet.IV.




0 Comments