Dewasa
ini pondok pesantren mengalami perkembangan sangat pesat yang tidak kalah
dengan lembaga pendidikan yang lain. Namun, masih ada sebagian dari masyarakat
yang memandang podok pesantren dengan sebelah mata.
Mereka
yang memandang pondok pesantren dengan sebelah mata mempunyai anggapan bahwa, pondok
pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional atau kuno, minim fasilitas belajar, dan ada
juga yang menganggap pondok pesantren tempat anak-anak mbeling (nakal).
Dari
segi pembelajaran, pondok pesantren menerapkan berbagai metode, namun metode
belajar yang menjadi ciri khas pondok pesantren yaitu:
Pertama,
Sorogan, secara bahasa sorogan berasal dari kata Jawa sorog, yang
artinya menyodorkan. Dengan metode ini, berarti santri dapat menyodorkan materi
yang ingin dipelajarinya sehingga mendapatkan bimbingan secara secara khusus.
Sorogan merupakan metode pembelajaran yang diterapkan pesantren hingga kini,
terutama di pesantren-pesantren salaf.
Kedua,
wetonan, konon wetonan berasal dari kata wektu yang
berarti waktu. Karena metode ini diterapkan atau diberikan oleh pengajar (kyai)
kepada santri pada waktu-waktu tertentu. Biasanya sebelum atau sesudah
melakukan shalat fardhu dan dilaksanakan dimasjid atau tempat pengajian yang
lain. Dalam mempraktekkan metode ini, seorang pengajar (kyai) akan membacakan kitab
kuning dan menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal, seperti Jawa, Madura, atau
Sunda.
Setelah
mendapatkan kedua metode diatas, para santri melanjutkan belajar mereka dengan
menggunakan metode syawir atau muyawarah. Metode ini merupakan metode
pembelajaran yang mulai maju, sehingga kedudukan pondok pesantren menjadi lebih
berkembang aktif.
Metode
syawir mampu melatih para santri lebih aktif dalam pendalaman materi kajian
serta pemecahan atas permasalahan yang terjadi.
Dari
segi fasilitas, keadaan di pondok pesantren memang sangat sederhana bahkan
dapat dikatakan jauh dari kata istimewa. Namun, dengan kesederhanaan dapat
menjadikan seorang santri belajar untuk hidup. Bagi santri, belajar untuk
menjadi pintar berbagai disiplin ilmu itu penting, akan tetapi jauh lebih
penting pintar untuk belajar hidup.
Pada
dasarnya setiap lembaga pendidikan mempunyai tujuan yang sama, yakni mempersiapkan
generasi penerus. Penerus para pendiri bangsa untuk membangun masyarakat yang
lebih bermartabat. Di pondok pesantren seorang santri dididik menjadi manusia
yang ideal, yaitu manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak.
Menjadi manusia yang ideal mempunyai maksud bahwa santri dibekali untuk hidup yang seimbang. Seimbang untuk meraih dunia dan akhirat. Sehingga di pondok pesantren para santri tidak hanya mengkaji kitab kuning, akan tetapi juga diajarkan berbagai pengetahuan umum.
Menjadi manusia yang ideal mempunyai maksud bahwa santri dibekali untuk hidup yang seimbang. Seimbang untuk meraih dunia dan akhirat. Sehingga di pondok pesantren para santri tidak hanya mengkaji kitab kuning, akan tetapi juga diajarkan berbagai pengetahuan umum.
Malang,
18 September 2017



0 Comments